Mahasiswa Pendidikan Fisika Unimal Pelajari Instrumen Meteorologi dan Fenomena El Niño–La Niña di BMKG Malikussaleh

Mahasiswa Pendidikan Fisika Unimal Pelajari Instrumen Meteorologi dan Fenomena El Niño–La Niña di BMKG Malikussaleh

Aceh Utara, 31 Juli 2026 –

Sebanyak 28 mahasiswa semester enam Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Malikussaleh, melaksanakan kunjungan edukatif ke Stasiun Meteorologi BMKG Malikussaleh, Aceh Utara, pada hari Jumat tanggal 31 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Fisika Kebumian dan Antariksa. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan materi mengenai cuaca, iklim, dan dinamika atmosfer yang telah dipelajari di ruang kuliah dengan proses pengamatan meteorologi secara langsung di lapangan. Kunjungan tersebut didampingi oleh Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Malikussaleh, Munzir Absa, S.T., M.Si., bersama dosen pengampu Mata Kuliah Fisika Kebumian dan Antariksa, Syafrizal, S.Si., M.Si. Kegiatan pembelajaran lapangan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang diarahkan pada pencapaian kompetensi mahasiswa melalui pengalaman belajar autentik. Melalui kegiatan ini, program studi mendorong pembelajaran kontekstual yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati, menganalisis, dan memahami penerapan konsep fisika kebumian dan antariksa secara langsung di lapangan.

Mengenal Instrumen Meteorologi Secara Langsung

Pada sesi lapangan, mahasiswa dibagi ke dalam 3 kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh praktisi BMKG yang memberikan penjelasan mengenai fungsi, prinsip kerja, cara pengamatan, serta pembacaan data dari berbagai instrumen meteorologi. Salah satu instrumen yang dipelajari adalah sangkar meteorologi. Bangunan berbentuk sangkar tersebut digunakan untuk melindungi alat pengukur suhu dari paparan radiasi Matahari dan hujan secara langsung, tetapi tetap memungkinkan terjadinya sirkulasi udara. Di dalamnya terdapat termometer bola kering, termometer bola basah, termometer maksimum, dan termometer minimum. Keempat alat tersebut digunakan untuk mengamati suhu udara, kelembapan, serta suhu tertinggi dan terendah dalam periode tertentu. Mahasiswa juga mempelajari penakar hujan manual dan penakar hujan otomatis. Pada penakar hujan manual, air yang tertampung diukur menggunakan gelas ukur khusus untuk memperoleh nilai curah hujan dalam satuan milimeter. Sementara itu, penakar hujan otomatis menggunakan sensor dan sistem pencatatan digital yang terhubung dengan perangkat pengolah data. Instrumen lain yang diperkenalkan adalah Campbell-Stokes yang digunakan untuk mengukur lama penyinaran Matahari. Alat tersebut menggunakan bola kaca untuk memusatkan sinar Matahari pada kertas pias hingga meninggalkan jejak bakar. Panjang jejak bakar pada kertas selanjutnya digunakan untuk menentukan durasi penyinaran Matahari dalam satu hari. Mahasiswa turut mengamati evaporimeter panci terbuka untuk mengukur laju penguapan air, anemometer untuk mengukur kecepatan dan arah angin, serta Automatic Weather Station atau AWS yang mampu merekam berbagai parameter cuaca secara otomatis dan waktu nyata. Data dari sensor AWS dikirimkan ke perangkat penyimpanan untuk selanjutnya diolah dan dianalisis oleh petugas BMKG. Dalam sesi praktik, mahasiswa berkesempatan mencoba proses pengukuran menggunakan penakar hujan manual. Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa angka curah hujan yang diinformasikan kepada masyarakat diperoleh melalui prosedur pengamatan, pengukuran, dan pencatatan yang sistematis.

bmkg1.jpeg

Gambar 1. Praktikum Intrumentasi Meteorologi di taman Alat

bmkg2.jpeg

Gambar 2. Pengamatan lama penyinaran matahari menggunakan Campbell-Stokes

Mendalami Fenomena El Niño dan La Niña

Setelah mengikuti pembelajaran lapangan, mahasiswa melanjutkan kegiatan di dalam ruangan. Pada sesi ini, praktisi BMKG menyampaikan materi mengenai konsep dasar cuaca dan iklim, proses pengamatan atmosfer, serta fenomena El Niño, La Niña, dan El Niño–Southern Oscillation atau ENSO. Pemaparan dilengkapi dengan berbagai peta cuaca dan iklim untuk membantu mahasiswa memahami pola curah hujan, perubahan suhu permukaan laut, serta hubungan antara dinamika atmosfer dan kondisi cuaca di suatu wilayah. Pembahasan ini menjadi relevan karena mahasiswa sebelumnya telah mempelajari materi dasar cuaca dan iklim dalam perkuliahan Fisika Kebumian dan Antariksa. Dalam sesi diskusi dampak fenomena El Niño dan La Niña terhadap pola curah hujan, suhu udara, pertanian, perikanan, transportasi, serta risiko bencana hidrometeorologi. Salah seorang mahasiswa (Fatin Nabila) juga bertanya Mengapa Udara Terasa Sangat Panas dan Kering di Aceh Utara Belakangan Ini?

Kharendra Muiz, Praktisi (Plh. Kepala Stasiun Meteorologi Malikussaleh, Aceh Utara) menjelaskan dengan jelas. Beberapa bulan terakhir, masyarakat di Aceh Utara dan sekitarnya tentu merasakan cuaca yang jauh lebih panas dan terik dari biasanya, terutama pada siang hari. Kondisi ini bukan sekadar persepsi, melainkan juga tercermin dari data pengamatan cuaca yang dilakukan oleh Stasiun Meteorologi Malikussaleh. Data menunjukkan bahwa selama bulan Juni 2026, akumulasi curah hujan di wilayah Aceh Utara hanya mencapai 52,5 mm, yang termasuk dalam kategori rendah (0–100 mm). Memasuki Juli 2026, kondisi menjadi semakin kering. Sepanjang bulan tersebut, curah hujan yang tercatat hanya 3,6 mm, atau hampir tidak ada hujan sama sekali. Berkurangnya hujan ini diikuti oleh peningkatan suhu udara maksimum harian, dari rata-rata 32–34°C pada bulan Juni hingga mencapai 36,4°C pada 28 Juli 2026, yang menjadi suhu tertinggi selama periode tersebut. Secara klimatologis, kondisi tersebut sebenarnya masih sesuai dengan pola musim di Aceh. Wilayah ini memang sedang berada pada puncak musim kemarau yang umumnya berlangsung pada periode Juni hingga Agustus. Pada musim ini, intensitas hujan memang cenderung menurun sehingga sinar matahari lebih leluasa memanaskan permukaan bumi. Namun demikian, kemarau tahun ini terasa lebih panas dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Penyebab utamanya adalah pengaruh El Niño, yaitu fenomena iklim global yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Hasil pemantauan suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 pada pertengahan Juli 2026 menunjukkan anomali sebesar +2,26°C, yang mengindikasikan bahwa El Niño saat ini telah berada pada kategori kuat. Bahkan berdasarkan hasil pemodelan dan analisis iklim BMKG, fenomena El Niño 2026 diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, bahkan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Berbagai kajian klimatologi menunjukkan bahwa El Niño umumnya menyebabkan penurunan curah hujan yang cukup signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk pesisir utara dan timur Aceh. Akibatnya, musim kemarau menjadi lebih panjang, hujan semakin jarang turun, dan suhu udara pada siang hari terasa lebih menyengat.

Dengan demikian, kondisi udara yang sangat panas dan kering yang dirasakan masyarakat Aceh Utara saat ini merupakan hasil dari kombinasi dua faktor. Di satu sisi, wilayah Aceh memang sedang memasuki puncak musim kemarau. Di sisi lain, kemarau tersebut diperkuat oleh pengaruh El Niño yang sedang berada pada fase kuat, sehingga defisit curah hujan menjadi semakin besar dan suhu udara meningkat lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Inilah yang menyebabkan cuaca di Aceh Utara dalam beberapa bulan terakhir terasa jauh lebih terik daripada biasanya. Syafrizal menjelaskan bahwa kunjungan lapangan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat dan mempelajari penggunaan instrumen meteorologi secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai konsep yang telah diperoleh dalam perkuliahan sekaligus menunjukkan penerapan ilmu fisika dalam kegiatan pengamatan cuaca dan iklim. Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mengenal bentuk dan fungsi berbagai instrumen meteorologi, tetapi juga memahami rangkaian proses pengamatan, pengumpulan data, analisis, dan penyusunan prakiraan cuaca. Kegiatan tersebut menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan teori perkuliahan dengan praktik pengamatan atmosfer secara langsung. Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Malikussaleh berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam bidang meteorologi dan klimatologi, meningkatkan kemampuan menganalisis fenomena cuaca dan iklim secara ilmiah, serta memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi dan BMKG dalam mendukung pendidikan, penelitian, dan peningkatan literasi kebencanaan.

bmkg3.jpeg

Gambar 3. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Malikussaleh mengikuti kegiatan pembelajaran lapangan di Stasiun BMKG Malikussaleh, Aceh Utara.

Program Studi Pendidikan Fisika

Kampus Utama Cot Tengku Nie Reuleut,
Muara Batu, Aceh Utara,
Provinsi Aceh, Indonesia
Telp : +62.645.41373
Fax : +62.645.44450

Statistik Pengunjung

Civitas Akademika

Link Literasi